Sabtu, 18 Maret 2017

Kancil III dan Gajah yang Baik

Tindakkan Kancil masuk kedalam itu merupakan tindakan yang sangat ceroboh. Ia tidak berpikir bagaimana caranya ia naik ke atas bila sudah berada di dalam kolam tersebut. Beberapa kali Kancil mencoba untuk memanjat tetapi ia tidak bisa sampai ke atas.

‘’Tolong.’’ Toloooonggggg..!’’

Si Kancil tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berteriak meminta tolong. Teriakan si Kancil ternyata terdengar oleh sang Gajah yang kebetulan sedang berjalan melewati tempat itu. ‘’Hai, siapa yang ada di kolam itu?’’



“Aku… tolong aku..! jawab si Kancil.

“Siapa kau?’’ Tanya Gajah.

‘’Aku.. si Kancil sahabatmu.’’

‘’Kenapa kamu bisa di dalam kolam ini? Dan berteriak meminta tolong.’’

Kancil terdiam sesaat mencari akal agar Gajah mau menolongnya.

‘’Tolong aku mengangkat ikan ini.’’

“Yang benar kau mendapat ikan?’’

‘’Bener..benar ! aku mendapatkan ikan yang sangat besar.’’

‘’Tapi bagaimana caranya aku turun kebawah.’’

‘’Sebaiknya kamu langsung turun saja kebawah. Sebab jika tidak cepat-cepat ikan ini bisa lepas.!’’

Gajah berpikir sejenak. Bisa saja ia turun ke bawah dengan mudah tetapi bagaimana jika naiknya nanti.



‘’Cil. Mana ikan yang kau dapatkan ?’’

‘’Ada di sepasang kakiku.’’ Kata Kancil.

‘’Kalau aku menolongmu. Lalu bagaimana caranya aku naik dari kolam ini.?’’

Kini Kancil terdiam. Ia tidak menyangka gajah dapat berpikir sejauh itu. Tidak seperti dirinya, karena kehausan langsung terjun kedalam kolam. Tanpa berpikir akibatbya.

‘’Kau mau memanfaatkanku ya Cil?’’ kau akan menipuku untuk kepentingan dan keselamatanmu sendiri?’’ Tanya Gajah.

Kancil hanya terdiam.

‘’Sekali-kali kamu harus diberi pelajaran.’’ kata Gajah sambil meninggalkan tempat itu.

‘’Waduh.. Pak Gajah. Aku mohon tolonggggg….!’’

Gajah tidak mendengarkan teriakan Kancil. Kancil mulai putus asa. Semakin lama berada di tempat itu Kancil mulai merasa kedinginan.



‘’Toolongg.. tolongggg.’’

Hingga menjelang sore tidak ada seekor binatang yang mendengar teriakannya.

‘’Aduh gawat! Aku benar-benar akan mati kaku di tempat ini.’’ Kancil mulai membayangkan akhir hidupnya ditempat ini.

Lalu Kancil berteriak dengan keras.’’ Wahai langit dan bumi! Dan seluruh binatang yang berasa di hutan. Aku bersumpah tidak akan menipu untuk kepentinganku dan keselamatanku sendiri, kecuali……!

Ketika Kancil mengucapkan kata kecuali, Kancil sengaja mengecilkan suaranya sehingga hampir tidak terdengar lagi. Tak di sangka ternyata Gajah tiba-tiba muncul di tepi kolam. Ternyata Gajah tidak benar-benar meninggalkan Kancil sendirian dan sengaja menyembunyikan dirinya. Ia penasaran mendengar ucapan kancil yang terakhir.

“Kecuali apa?’’ tanya Gajah penasaran.

Kancil terkejut mendengar suara Gajah.



‘’Pak Gajah? Kau kembali lagi?’’

‘’Jawab pertanyaanku Cil. Kecuali apa?’’

‘’Hmm. Kecuali terpaksa untuk menyelamatkan diri. Karena aku hewan kecil yang serimg terancam oleh Harimau, Singa, Srigala, dan binatang lainnya yang jahat.’’

‘’Oh begitu..?’’ sahut Pak Gajah. ‘’Sekarang apakah kamu sudah sadar? Dan akan berjanji tidak akan menipu, jahil, iseng dan perbuatan yang merugikan binatang lain?’’

‘’Benar Pak Gajah.’’

‘’Betul?’’

Betul Pak Gajah, saya benar-benar berjanji.’’

‘’Baiklah sekarang aku akan menolonhmu Cil.’’ Kata Gajah.

Gajah menjulurkan belalainya yang sangat panjang untuk menangkap Kancil dan mengangkatnya ke atas. Begitu sampai di atas Kancil berkata.

‘’Terima kasih Pak Gajah! Saya tidak akan pernah melupakan kebaikanmu ini.’’

Sejak itu Kancil menjadi binatang yang sangat baik. Ia tidak lagi berbuat iseng seperti yang pernah ia lakukan pada beruang dan binatang-binatang yang lainya.



++++++++++++
Kancil Pura Pura Mati

Anak kecil memberitahukan Pak Tani dan mengajak kawan-kawannya menangkap Kancil di Rumah Kosong....Dan jika mereka dapat menangkap Kancil, mereka akan jadikan gulai.

Kancil yang cerdik mulai berlari kesana-kemari. Anak-anak dan Pak Tani mengejarnya sambil berteriak-teriak. Kancil sangat panik dan ketakutan. Semakin banyak anak-anak yang mengejarnya. Ia sangat bingung, akhirnya Kancil masuk ke dalam rumah kosong.

Anak-anak dan Pak Tani langsung masuk kerumah itu dan mereka langsung mengepung Kancil. Kancil tidak bisa meloloskan diri.

‘’ Bagaimana aku bisa melarikan diri, sepertinya kali ini mereka akan berhasil membuat gulai.’’ Desisnya putus asa dan pasrah.

Mereka pun langsung menangkap dan Kancil di ikat di belakang rumah Pak Tani. Kancil berusaha untuk meloloskan diri. Namun, ikatannya sangat kuat. Kancil terus mencari akal. Sementara Pak Tani sibuk mengasah pisau dan merebus air. Ia sangat senang karena aka makan gulai Kancil.



Tapi entah apa yang terjadi. Tiba-tiba Kancil tergeletak dan banyak Lalat yang mengerubutinya. Anak-anak dan Pak Petani sangat terkejut melihat kancil tergeletak.

‘’ Apakah Kancil mati pak?’’ Tanya salah satu anak.

‘’ Sepertinya iya.’’ Jawab Pak Tani

Pak Tani dan Anak-anak merasa sangat kecewa melihat Kancil mati dan di kerubuti lalat. Karena mereka tidak boleh meyembelih dan memakan hewan yang sudah mati atau menjadi bangkai

Akhirnya, mereka membawa Kancil ke tepi sungai. Binatang cerdas itu langsung di lempar ke tengah sungai. Anak-anak yang ikut membuang bangkai Kancil mulai menggerutu..

‘’ Gagal deh makan gulai,padahal aku ingin sekali memakannya. Pasti rasanya enak sekali.’’

Setelah Kancil hanyut agak jauh terbawa arus sungai. Kancil mulai menggeliat dan berenang ke tepi. Ternyata Kancil tadi hanya pura-pura mati, untuk meloloskan diri. Agar aksinya berhasil, ia sengaja mengundang para Lalat agar mengerubutin tubuhnya.

Kancil memang hewan yang sangat cerdik. Dengan akalnya dia berhasil menyelamatkan diri.

Kancil dan Buaya II

Meski selalu lolos dari kejaran buaya, namun lama-lama kancil merasa khawatir juga. Karena itu, ia pindah rumah ke daerah lain untuk menjauhi buaya. Ia tinggal dibawah sebuah pohon besar di hilir sungai. Awalnya buaya merasa bingung karena tidak melihat kancil di tempat biasanya. Maka ia pun mencarinya ke sana-kemari, bertanya kepada para hewan yang ditemuinya.

"Oh, kancil pindah ke pohon di dekat hilir sungai," kata burung kecil yang ditanya oleh buaya. Tentu saja buaya senang mendengar informasi itu. Segera saja ia pergi ke tempat yang dimaksud oleh si burung. Ia sudah tidak sabar lagi untuk memburu si kancil. Ia benar-benar merasa penasaran, ingin menikmati daging kancil yang sudah lama ia idam-idamkan. Setelah berhasil menemukan tempatnya, buaya pun pindah ke sana juga. Namun, kancil masih belum mengetahuinya.

Selama berhari-hari buaya mengawasi kancil. Ia mempelajari kebiasaan kancil seraya merancang strategi untuk menangkapnya. Dari pengamatannya itu, tahulah si buaya bahwa si kancil sering pergi ke sebuah pulau kecil yang ditumbuhi pohon-pohon apel di dekat tempat tinggal kancil. Untuk sampai ke sana, si kancil biasa menyeberang sungai dengan melompati beberapa batu besar yang ada di antara tempat tinggal kancil dengan pulau tersebut.
"Aku punya ide!" seru buaya. Ketika kancil pergi ke pulau kecil, buaya bersembunyi di balik batu di tengah sungai. Ia menunggu kancil melompat ke batu itu.

Hari itu kancil puas memakan buah-buahan yang ada di pulau kecil. Kemudian ia pun pulang dengan riang. Ia melompat dari sisi sungai ke batu-batu untuk sampai di rumahnya. Namun setibanya di  tengah sungai, ia melihat bayangan dari batu yang hendak dilompatinya tampak Iebih tinggi dari biasanya.

Akal cerdas si kancil Segera menangkap bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

"Jangan-jangan ada buaya di balik batu itu?" batin kancil, curiga. Setelah berpikir, ia berhasil mendapat akal. Ia berteriak ke arah batu, "Hai batu! Gimana kabarmu?"

Hening. Tidak ada jawaban. Kancil kemudian bertanya lagi. "Ada apa batu sahabatku? Biasanya kau menjawab sapaanku."

"Oh, jadi biasanya batu ini berbicara?" batin Buaya yang sedang berdiam diri di batu itu. "Kalau begitu aku harus pura-pura menjawabnya supaya kancil tidak curiga."
"Halo juga, kancil," jawab buaya.

Kancil terkikik dalam hati melihat kebodohan buaya. Lantas ia berkata, "Jadi kau ada di situ ya, Buaya? Tak kusangka, kau mengejarku sampai ke sini."
Buaya kaget. Rupanya penyamarannya sudah ketahuan. Sadarlah ia bahwa kancil telah mengakalinya. Ia benar-benar kesal dengan kebodohannya sendiri.

"Ya, aku mengejarmu ke sini karena ingin memakanmu!" sahut buaya, jengkel.

"Baiklah. Kali ini kau berhasil menjebakku," jawab kancil sambil mempersiapkan siasat berikutnya. "Bukalah mulutmu lebar-lebar agar aku bisa melompat ke dalamnya."

Kancil benar-benar cerdik. Ia tahu bahwa mata buaya akan tertutup saat buaya membuka mulutnya lebar-lebar. Dan sesaat setelah buaya membuka mulutnya, kancil segera melompat ke atas kepala buaya, lalu melompati batu batu lainnya dengan lincah, dan setelah tiba di tepi sungai segera memanjat pohon besar tempat tinggalnya.

Lagi-lagi selamatlah kancil dari kejaran buaya. Itu semua berkat kecerdasannya yang jauh melampaui buaya. Sementara buaya terpaksa gigit jari karena lagi-lagi gagal menangkap kancil yang sudah lama diincarnya.

Senin, 13 Maret 2017

Angsa Yang Berhati Baik

Kononnya, pada suatu hari Raja Sulaiman menitahkan burung belatuk memanggil sekalian haiwan supaya menghadap baginda. "Perintahkan semua haiwan datang ke istana beta. Sudah lama beta tidak bertemu dengan sekalian haiwan," kata baginda. Tanpa berlengah lagi, terbanglah Sang Belatuk ke segenap penjuru rimba. Tuk! Tuk!uk! Sang Belatuk mengetuk batang pokok. "Apa berita yang engkau bawa, wahai Sang Belatuk?" tanya sekalian haiwan. "Aku membawa titah perintah daripada Raja Sulaiman. Baginda menitahkan semua haiwan pergi menghadapnya di istana," ujar Sang Belatuk. Selepas itu, Sang Belatuk terbang ke tempat lain pula. Tuk! Tuk! Tuk! Sang Belatuk ngetuk batang pokok. Begitulah caranya burung belatuk membawa berita kepada sekalian haiwan. Semua haiwan berasa gembira apabila mengetahui berita itu. Mereka akan berlumba-lumba untuk pergi ke istana Raja Sulaiman. Mereka sangat gembira jikalau dapat menghadap Raja Sulaiman. Baginda akan mengurniakan hadiah kepada sekalian haiwan.

Namun, ada juga sesetengah haiwan yang enggan pergi menghadap Raja Sulaiman. "Istana Raja Sulaiman itu tersangat jauh. Matilah aku di tengah perjalanan sebelum dapat sampai ke sana," kata segelintir haiwan yang sengaja mencari helah. Haiwan yang ingkar itu akan dijatuhi hukuman berat oleh Raja Sulaiman. Tersebutlah kisah seekor angsa. Sang Angsa sangat gembira apabila menerima berita Setelah beberapa lama berjalan, Sang Angsa tiba di tebing sungai. "Kalaulah aku pandai berenang, nescaya aku boleh cepat sampai ke istana Raja Sulaiman," kata Sang Angsa dalam hatinya. Sang Angsa ketika itu masih belum pandai berenang. Terpaksalah Sang Angsa terus berjalan perlahan-lahan.

Di pertengahan jalan, Sang Angsa terserempak dengan seorang perempuan tua. Perempuan tua itu sedang menangis "Mengapa mak cik menangis?" tanya Sang Angsa. Perempuan itu lalu memberitahu, "Aku tersangat lapar. Bekalan makananku sudah bis." Sang Angsa bersimpati pada perempuan itu. "Janganlah mak cik bersedih. Saya akan tinggal di sini selama beberapa hari untuk bertelur. Telur saya boleh mak cik jadikan sebagai makanan," ujar Sang Angsa. Tinggallah Sang Angsa itu di situ selama beberapa hari. Setiap hari Sang Angsa bertelur sebiji. Perempuan tua itu sangat gembira kerana dia sudah memperoleh bekalan kanan.

daripada Sang Belatuk itu"Inilah kali pertama aku berpeluang untuk berjumpa Baginda Raja Sulaiman!" ujar Sang Angsa dengan penuh gembira. Kononnya, Sang Angsa ketika itu berbulu hitam dan masih berleher pendek. "Engkau hodoh! Engkau tidak layak masuk ke dalam istana Raja Sulaiman," Sang Biawak mengejek. Sang Angsa sangat bersedih hati mendengar ejekan itu. Namun, Sang Angsa tidak mempedulikan ejekan tersebut. Tanpa berlengah lagi, Sang Angsa berjalan perlahan-lahan menuju ke istana Raja Sulaiman.

"Tentulah aku akan lewat menghadap Raja Sulaiman," fikir Sang Angsa. Sang Angsa berasa sedih. Namun, Sang Angsa tidak mahu perempuan tua itu mati kerana kelaparan. Beberapa hari kemudian, perempuan tua itu memberitahu Sang Angsa, "Sekarang bolehlah engkau pergi ke istana Raja Sulaiman. Baki telur yang ada ini sudah cukup untuk mak cik." Perempuan tua itu mengucapkan terima kasih kepada Sang Angsa. "Engkau adalah seekor angsa yang sungguh budiman," kata perempuan tua itu lagi. Sang Angsa lalu meneruskan perjalanannya. Semua haiwan sudah berada di istana Raja Sulaiman. Sang Angsa tiba, tetapi sudah sangat terlewat. "Beritahu pada beta, mengapa engkau lambat sampai?" Raja Sulaiman bertitah kepada Sang Angsa. Sang Angsa sangat ketakutan. Namun, Sang Angsa menceritakan perkara sebenar yang telah terjadi itu kepada Raja Sulaiman. Baginda Raja Sulaiman berasa sangat sukacita kerana Sang Angsa telah menolong perempuan tua itu. "Engkau adalah seekor angsa yang sangat budiman," ujar Raja Sulaiman. "Sekarang beta akan kurniakan hadiah sebagai balasan atas budi baik kamu," kata ja Sulaiman. Sang Angsa sangat gembira.Kamu akan menjadi seekor haiwan yang berleher panjang," ujar baginda lagi. Terkejutlah Sang Angsa mendengar kata-kata itu.

Semua haiwan ketawa berdekah-dekah. Mereka menyangka Sang Angsa akan menjadi seekor haiwan yang lebih hodoh. Tetapi sangkaan itu salah! Sang Angsa menjadi haiwan yang sangat cantik. Lehernya panjang, bulunya putih, dan pandai pula berenang. Sang Biawak pula dijatuhi hukuman oleh Raja Sulaiman kerana pernah mengejek Sang Angsa. Lidahnya menjadi panjang, suka terjelir, dan bercabang. Kononnya, itulah sebabnya sampai sekarang angsa menjadi haiwan cantik, berbadan putih bersih, suka berenang, dan dipelihara oleh manusia. Biawak pula terpaksa tinggal di dalam hutan kerana berasa malu. Selain itu, biawak juga suka makan telur kerana kononnya sangat marah pada angsa, ayam, dan itik.




Intisari Kancil dan Harimah

“Ah…sangat segarnyaaa”, kata Kancil merasa nikmatnya air sungai yang masih jernih itu. Kancil pun lantas berkali-kali meminum air sungai sampai perutnya kembung. Kancil tidak menyadari kalau ada Harimau memperhatikannya dari balik semak belukar sejak dari tadi.

“ada Makanan sedap di depan mata”, batin Harimau sambil bersiap hendak menerjang Kancil. Begitu Kancil tampak lengah, Harimau langsung menerjangnya.

cukup Beruntung, Kancil sempat melihat bayangan Harimau di air sungai sehingga bisa menghindar terjangannya. Hariamau yang tampak kelaparan langsung menyerang Kancil dengan membabi buta. Kancil hanya berusaha menghindar mati-matian. Dalam suatu serangan, Harimau bisa membuat Kancil terdesak pada sebatang pohon. Tapi Kancil berusaha tenang dan tidak panik.

“Tunggu,apa kamu lihat sungai kecil itu”, kata Kancil sambil menujuk sungai kecil, tempatnya minum tadi. Harimau mengangguk. 

“Tadi sewaktu aku sedang minum air sungai itu, aku melihat ada Harimau selain kamu”, kata Kancil.

“Kamu pasti bohong”, sahut Harimau tidak percaya.

“Kalau kamu tidak percaya, aku akan tunjukkan kepadamu”, kata Kancil sambil melangkah ke tepi sungai diikuti Harimau. Sampai di tepi sungai,

“Lihat, ada Harimau lain selain kamu kan”, kata Kancil sambil menunjuk bayangan Harimau di tepi sungai. Harimau yang tidak tahu kalau itu bayangannya sendiri merasa marah. Tanpa pikir panjang, Harimau langsung menyerangnya.

Akibatnya, Harimau masuk ke dalam sungai. Beruntung, sungai itu dangkal. Sehingga Harimau bisa menyelamatkan diri kembali ke tepi sungainya. Di tepi sungai, Harimau segera mencari Kancil. Tapi Kancil sudah pergi menjauh dari situ. Harimau tampak kesal dan marah dibohongi Kancil.

“Lain kali, aku tidak mau dibohongi Kancil lagi”, janji Harimau dalam hati.

Pada suatu kesempatan, Harimau yang baru saja menyantap seekor rusa tiba-tiba melihat Kancil sedang berjalan santai di tepi hutan. Harimau membuntutinya. Tahu ada yang membuntutinya, Kancil segera berlari kencang. Tak mau kehilangan jejak Kancil, Harimau segera mengejarnya. Terjadilah kejar mengejar yang seru antara Kancil dengan Harimau.

Tanpa disadari, keduanya sampai di padang tandus nan gersang.

Di pucuk-pucuk pohon, banyak burung gagak tampak bergerombol mencari mangsa. Kancil yang menyadari ada banyak burung gagak langsung pura-pura mati. Harimau mendekati Kancil yang sedang berpura-pura mati itu. 

“Kamu sedang apa, Cil?”, tanya Harimau.

“Aku pura-pura mati untuk membohongi gerombolan burung gagak yang ada disini”, jawab Kancil pelan.

“Aku tidak akan tertipu lagi oleh ulahmu, Cil”, sahut Harimau yang langsung mengaum sekeras-kerasnya.

si Harimau tidak menyadari kalau aumannya itu mengundang gerombolan burung gagak turun dari pucuk pohon. Rupanya, mereka mencium bau daging rusa dari mulut Harimau. Harimau tampak kaget melihat gerombolan burung gagak mengerubutinya. Harimau bertambah kaget lagi ketika gerombolan burung gagak menyerangnya. Harimau berusaha mati-matian mempertahankan diri. Tapi gerombolan burung gagak itu seakan tidak ada habisnya. Harimau yang sudah kelelahan mempertahankan diri akhirnya menjadi makanan empuk mereka.

Selesai memakan Harimau, gerombolan burung gagak yang kekenyangan langsung pergi meninggalkan padang tandus nan gersang. Mereka melupakan Kancil yang juga berada disitu. Setelah mereka pergi, Kancil yang semula berpura-pura mati segera bangun. Kancil mendekati tubuh Harimau yang terbujur kaku.

“Harimau, maafkan aku”, kata Kancil yang bergegas meninggalkan padang tandus nan gersang itu dengan gontai..

++++++++

“Kejar aku kalau kau sanggup Harimau Tua jelek!!… Ha..ha..!!” Kancil semakin jauh meninggalkan Harimau yang mengejarnya.

Kancil terus berlari meninggalkan Harimau. Hingga Akhirnya laju larinya terhenti di pinggir sungai yang membelah hutan Surga Satwa. Kedua mata kancil terbelalak, mulutnya monyong seketika.

“Waaahhhh, aku lupa kalau sekarang hujan terus turun, kemarin-kemarin sungai ini kering kerontang, sekarang penuh dengan air, Waduhhh… bagaimana ini??” Kancil mondar-mandir gelisah. Tiba-tiba

“GGGgrrrrggghhh!!!, Wah kebetulan aku sedang lapar ada makanan datang… Hua…ha….” Sebuah benda mirip kayu, tiba-tiba muncul dari dalam sungai, Seekor buaya besar penghuni sungai itu muncul mendekati kancil. Kancil sampai melompat kaget melihat penampakan aneh tersebut.

Kancil semakin bingung, di belakang harimau pasti akan segera tiba, dan sekarang ditambah dengan kehadiran buaya yang tidak mudah ditaklukan. Kancil mencoba tenang, berpikir keras.

“Ehem.. ehem… Wahai Buaya Buruk rupa, buruk muka dan tak ada baiknya…. Ketahuilah bahwa kedatanganku kesini memegang amanah Dewa Penguasa Hutan ini…. Apa berani kau menentang titahnya? Hmmmh….”. Buaya tersentak kaget, amarahnya memuncak mendapat hinaan Kancil, namun begitu mendengar Dewa Penguasa Hutan, buaya memilih menahan amarahnya.

“Hai, Buaya Jelek.. kenapa diam? Takut ya?? Ha…ha… Makanya jangan macam-macam denganku, sekali Aku tunjuk nyawamu akan hilang…. Mau aku tunjuk??!!!”

“Ehhh..Eh… Ampun Kancil, Aku tidak berani…. Aku tidak berani, jangan tunjuk aku Kancil ya…? Anak-anakku masih kecil…” Ujar Buaya memelas.

“HHmmmmhhh… Baiklah, kali ini Kau kuampuni. Tapi awas kalau coba-coba lagi, Kau tak akan kuampuni. Sekarang, laksanakan perintahku!!! waktuku tidak banyak, segera kumpulkan kawan-kawanmu dan berbaris rapi di sisi sungai ini, dari ujung sini, sampai pinggir sungai sana… Aku harus menghitung jumlah kalian sebagai bahan laporan kepada Dewa Penguasa Hutan ini, kalian akan mendapat hadiah…. Cepat!!!”

“BBBbbaa..Baik Kancil, segera aku laksanakan titahmu…. ” Buaya segera meninggalkan Kancil dan memanggil seluruh kawan-kawannya untuk berbaris di sungai yang sedang meluap itu. Tak berapa lama kemudian, seluruh buaya penghuni sungai itu telah berbaris rapi memenuhi sungai itu, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang kurus ada juga yang gemuk. Kancil tersenyum geli.

“Kancil, semua buaya telah siap…” Ujar buaya itu tergopoh-gopoh

Kancil berkacak pinggang.

“Dasar buaya bodoh, bisa juga kalian aku kerjain… hi..hi…”

“Bagus, Bagus!! Kau memang bisa aku andalkan, tetap di posisi kalian saat aku menghitung ya!!!, jangan ada yang berani macam-macam atau aku akan mencabut nyawa kalian dengan telunjuk saktiku” Hardik Kancil pada kawanan buaya yang telah berbaris rapi tersebut. Para buaya tersebut hanya terdiam dan takut, karena mengira Kancil memang diutus Dewa Penguasa Hutan Surga Satwa tersebut.

Kancil mulai menyeberangi sungai dengan menginjak-injak tubuh para buaya yang telah berbaris rapi di atas sungai tersebut. Bahkan sesekali Kancil menjitak kepala beberapa buaya itu. “Satu, dua, tiga, empat…!!” Kancil terus menghitung buaya yang berbaris rapi di atas sungai itu hingga sampai ke seberang.

“Wahai, dengarkanlah para buaya bodoh!!!. Aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian, sesungguhnya aku telah menipu kalian, lihatlah di seberang sungai itu, ada Harimau yang sedang mengejarku, Aku menipu kalian agar aku bisa menyeberangi sungai ini, Hua,..ha…. Terima kasih ya para buaya Bodoh… Hua..ha…” Kancil tertawa puas dan meninggalkan kawanan buaya yang merasa geram karena ditipu oleh Kancil. Di seberang sungai Harimau menggeram kencang, Harimau merasa kesal melihat buruannya bisa melarikan diri. Untuk kesekian kalinya Kancil telah berhasil selamat dari ancaman bahaya.

+++++++++++++

Kura-Kura Pemarah

Tapi sekarang kita harus segera pergi.Selamat tinggal dan semoga selamat!”Tampak si kura-kura amat sedih mendengarnya.Sambil menangis kura-kura minta diajak pergi bersama mereka. lalu Bangau menjawab,”hai kura-kura,kami sebenarnya tak ingin meninggalkan kamu,tapi kamu tak bisa terbang seperti kami.”
Si kura-kura akhirnya punya akal,”aku tak dapat terbang seperti kalian,tetapi aku masih dapat pergi bersama kalian.”
“bagaimana mungkin?”tanya bangau terheran-heran.“caranya pertama-tama carikan aku tongkat panjang yang kuat, lalu kalian berdua memegang masing-masing ujung tongkat itu dengan paruh kalian.aku akan berpegangan dengan mulutku dan bergantungan di tengah-tengah kayu itu.Kemudian kita semua dapat terbang menuju tempat dimana banyak air.”“wah wahhh akal yang luar biasa!”kata burung bangau.Lalu kedua bangau itu mencari tongkat yang kuat.Si kura-kura berpesan,”kawan,hati-hati ya,jangan menjatuhkanku.”

Burung bangaupun menggelengkan kepalanya sambil berkata,”ya tentu saja kami akan hati-hati.tapi kamu harus berjanji juga,jangan membuka mulutmu sementara kita terbang.Kalau tidak,kmu pasti jatuh dan lehermu bisa patah.”
Kura-kura berjanji,”aku tak sebodoh itu.aku tak akan berkata sepatah kata pun.
Burung bangau itu memegang kedua ujung tongkat itu dengan paruhnya,kemudian si kura-kura menggigit bagian tengah tongkat itu.
Merekapun mulai terbang.melintasi tanah,pegunungan,dan kebun yang baru.
Akhirnya mereka terbang di atas sebuah hutan yang banyak binatangnya..Segera berkrumun binatang-binatang menyaksikan pemandangan yang aneh di atas.
Anak-anak hewan yang masih kecil tertawa keras dan bertepuk tangan.”he..liat dua bangau itu membawa seekor kura-kura untuk terbang.ha..ha..ha..”

Si kura-kura marah dan heran mengapa hewan-hewan di bawah menertawainya.
Akhirnya ia tak dapat menahannya.Ia melupakan janjinya untuk tidak membuka mulutnya saat terbang.Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.Dan,Hup..!!pegangannya lepas dan si kura-kura itu pun jatuh ke tanah dengan keras.kura-kura bodoh dan malang itu akhirnya mati.



Kancil yang Sombong
kancil berkata-kata sendirian. "Buaya, Gajah, Harimau semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya".
Si kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan oleh seekor siput yang sedang duduk dibongkahan batu yang besar. Si siput berkata,"Hei kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira ?". Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia menemukan letak si siput.
"Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya ?". Siput yang kecil dan imut-imut. Eh bukan !. "Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran ayam". Ujar si kancil. Siput terkejut mendengar ucapan si kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel. Lalu siputpun berkata,"Hai kancil !, kamu memang cerdik dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat". Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan.

Setelah si kancil pergi, siput segera memanggil dan mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya harus berada dijalur lomba. "Jangan lupa, kalian bersembunyi dibalik bongkahan batu, dan salah satu harus segera muncul jika si kancil memanggil, dengan begitu kita selalu berada di depan si kancil," kata siput.

Hari yang dinanti tiba. Si kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang siput segera menyelam ke dalam air. Setelah beberapa langkah, kancil memanggil siput. Tiba-tiba siput muncul di depan kancil sambil berseru,"Hai Kancil ! Aku sudah sampai sini." Kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi. Ternyata siput juga sudah berada di depannya. Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul di depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil siput, tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.
Si kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis kancil berkata,"Kancil memang tiada duanya." Kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara siput yang sudah duduk di atas batu besar. "Oh kasihan sekali kau kancil. Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari ?". Ejek siput. "Tidak mungkin !", "Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang", seru si kancil.

BENDE SAKTI

Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah," kata harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya tidak tahan lagi. "Benar-benar keterlaluan si harimau !" kata Kancil menahan marah. "Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si harimau kapok.

Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si kancil tiba-tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si kancil. "Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas penting," kata kancil pada kelinci. "Tugas penting apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?", kata kelinci. "Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi."

Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya. "Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. "Itu dia si Kancil!" kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. "Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.

"Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting apa?". Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. "Aku harus menjaga bende wasiat itu." Bende wasiat apa sih itu?" Tanya harimau heran. "Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan kata-kata.

Harimau jadi penasaran. "Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu dari bende itu." "Jangan, jangan," kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, "Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?", kata si kancil.

Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi?. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung?nguuuung?..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau. "Tolong! Tolong!" teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah. "Grr, awas kau Kancil!" teriak Harimau menahan marah. "Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?". Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi."Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah," kata kancil. "Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?". "Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini," kata kelinci penuh harap."
Pesan Moral : Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita tidak boleh sombong dan memperlakukan makhluk hidup lain semena-mena.




Kancil dan Monyet

Pada suatu pagi, Sang Kancil pergi mencari makanan. Sang Kancil ternampak sebatang pokok jambu. Sang Kancil terliur hendak makan buah jambu. Di atas pokok jambu itu, tinggal seekor monyet. Sang Kancil lalu meminta pada Sang Monyet, "Wahai Sang Monyet, berikanlah aku sebiji jambu!"
Tetapi Sang Monyet enggan memberikan buah jambu kepada Sang Kancil. "Kalau engkau mahu makan, engkau panjatlah sendiri," Sang Monyet berkata dengan sombong. Sang Kancil mendapat suatu akal. Sang Kancil membaling monyet itu dengan sebatang kayu kecil.
Apalagi! Marahlah Sang Monyet. Sang Monyet memetik beberapa biji jambu. Sang Monyet segera membaling jambu itu ke arah Sang Kancil. Namun, Sang Kancil pandai mengelak. "Ha! Ha! Ha!" Sang Kancil ketawa. Sang Kancil sangat gembira.
"Engkau kena tipu," kata Sang Kancil kepada Sang Monyet. Sang Monyet terdiam apabila mendengar Sang Kancil berkata begitu."Sekarang aku dapat makan buah jambu," ujar Sang Kancil. Sang Kancil segera makan buah jambu itu. "Pandai sungguh Sang Kancil memperdayakan aku," kata Sang Monyet di dalam hatinya. Sang Monyet berasa malu.