Senin, 13 Maret 2017

Intisari Kancil dan Harimah

“Ah…sangat segarnyaaa”, kata Kancil merasa nikmatnya air sungai yang masih jernih itu. Kancil pun lantas berkali-kali meminum air sungai sampai perutnya kembung. Kancil tidak menyadari kalau ada Harimau memperhatikannya dari balik semak belukar sejak dari tadi.

“ada Makanan sedap di depan mata”, batin Harimau sambil bersiap hendak menerjang Kancil. Begitu Kancil tampak lengah, Harimau langsung menerjangnya.

cukup Beruntung, Kancil sempat melihat bayangan Harimau di air sungai sehingga bisa menghindar terjangannya. Hariamau yang tampak kelaparan langsung menyerang Kancil dengan membabi buta. Kancil hanya berusaha menghindar mati-matian. Dalam suatu serangan, Harimau bisa membuat Kancil terdesak pada sebatang pohon. Tapi Kancil berusaha tenang dan tidak panik.

“Tunggu,apa kamu lihat sungai kecil itu”, kata Kancil sambil menujuk sungai kecil, tempatnya minum tadi. Harimau mengangguk. 

“Tadi sewaktu aku sedang minum air sungai itu, aku melihat ada Harimau selain kamu”, kata Kancil.

“Kamu pasti bohong”, sahut Harimau tidak percaya.

“Kalau kamu tidak percaya, aku akan tunjukkan kepadamu”, kata Kancil sambil melangkah ke tepi sungai diikuti Harimau. Sampai di tepi sungai,

“Lihat, ada Harimau lain selain kamu kan”, kata Kancil sambil menunjuk bayangan Harimau di tepi sungai. Harimau yang tidak tahu kalau itu bayangannya sendiri merasa marah. Tanpa pikir panjang, Harimau langsung menyerangnya.

Akibatnya, Harimau masuk ke dalam sungai. Beruntung, sungai itu dangkal. Sehingga Harimau bisa menyelamatkan diri kembali ke tepi sungainya. Di tepi sungai, Harimau segera mencari Kancil. Tapi Kancil sudah pergi menjauh dari situ. Harimau tampak kesal dan marah dibohongi Kancil.

“Lain kali, aku tidak mau dibohongi Kancil lagi”, janji Harimau dalam hati.

Pada suatu kesempatan, Harimau yang baru saja menyantap seekor rusa tiba-tiba melihat Kancil sedang berjalan santai di tepi hutan. Harimau membuntutinya. Tahu ada yang membuntutinya, Kancil segera berlari kencang. Tak mau kehilangan jejak Kancil, Harimau segera mengejarnya. Terjadilah kejar mengejar yang seru antara Kancil dengan Harimau.

Tanpa disadari, keduanya sampai di padang tandus nan gersang.

Di pucuk-pucuk pohon, banyak burung gagak tampak bergerombol mencari mangsa. Kancil yang menyadari ada banyak burung gagak langsung pura-pura mati. Harimau mendekati Kancil yang sedang berpura-pura mati itu. 

“Kamu sedang apa, Cil?”, tanya Harimau.

“Aku pura-pura mati untuk membohongi gerombolan burung gagak yang ada disini”, jawab Kancil pelan.

“Aku tidak akan tertipu lagi oleh ulahmu, Cil”, sahut Harimau yang langsung mengaum sekeras-kerasnya.

si Harimau tidak menyadari kalau aumannya itu mengundang gerombolan burung gagak turun dari pucuk pohon. Rupanya, mereka mencium bau daging rusa dari mulut Harimau. Harimau tampak kaget melihat gerombolan burung gagak mengerubutinya. Harimau bertambah kaget lagi ketika gerombolan burung gagak menyerangnya. Harimau berusaha mati-matian mempertahankan diri. Tapi gerombolan burung gagak itu seakan tidak ada habisnya. Harimau yang sudah kelelahan mempertahankan diri akhirnya menjadi makanan empuk mereka.

Selesai memakan Harimau, gerombolan burung gagak yang kekenyangan langsung pergi meninggalkan padang tandus nan gersang. Mereka melupakan Kancil yang juga berada disitu. Setelah mereka pergi, Kancil yang semula berpura-pura mati segera bangun. Kancil mendekati tubuh Harimau yang terbujur kaku.

“Harimau, maafkan aku”, kata Kancil yang bergegas meninggalkan padang tandus nan gersang itu dengan gontai..

++++++++

“Kejar aku kalau kau sanggup Harimau Tua jelek!!… Ha..ha..!!” Kancil semakin jauh meninggalkan Harimau yang mengejarnya.

Kancil terus berlari meninggalkan Harimau. Hingga Akhirnya laju larinya terhenti di pinggir sungai yang membelah hutan Surga Satwa. Kedua mata kancil terbelalak, mulutnya monyong seketika.

“Waaahhhh, aku lupa kalau sekarang hujan terus turun, kemarin-kemarin sungai ini kering kerontang, sekarang penuh dengan air, Waduhhh… bagaimana ini??” Kancil mondar-mandir gelisah. Tiba-tiba

“GGGgrrrrggghhh!!!, Wah kebetulan aku sedang lapar ada makanan datang… Hua…ha….” Sebuah benda mirip kayu, tiba-tiba muncul dari dalam sungai, Seekor buaya besar penghuni sungai itu muncul mendekati kancil. Kancil sampai melompat kaget melihat penampakan aneh tersebut.

Kancil semakin bingung, di belakang harimau pasti akan segera tiba, dan sekarang ditambah dengan kehadiran buaya yang tidak mudah ditaklukan. Kancil mencoba tenang, berpikir keras.

“Ehem.. ehem… Wahai Buaya Buruk rupa, buruk muka dan tak ada baiknya…. Ketahuilah bahwa kedatanganku kesini memegang amanah Dewa Penguasa Hutan ini…. Apa berani kau menentang titahnya? Hmmmh….”. Buaya tersentak kaget, amarahnya memuncak mendapat hinaan Kancil, namun begitu mendengar Dewa Penguasa Hutan, buaya memilih menahan amarahnya.

“Hai, Buaya Jelek.. kenapa diam? Takut ya?? Ha…ha… Makanya jangan macam-macam denganku, sekali Aku tunjuk nyawamu akan hilang…. Mau aku tunjuk??!!!”

“Ehhh..Eh… Ampun Kancil, Aku tidak berani…. Aku tidak berani, jangan tunjuk aku Kancil ya…? Anak-anakku masih kecil…” Ujar Buaya memelas.

“HHmmmmhhh… Baiklah, kali ini Kau kuampuni. Tapi awas kalau coba-coba lagi, Kau tak akan kuampuni. Sekarang, laksanakan perintahku!!! waktuku tidak banyak, segera kumpulkan kawan-kawanmu dan berbaris rapi di sisi sungai ini, dari ujung sini, sampai pinggir sungai sana… Aku harus menghitung jumlah kalian sebagai bahan laporan kepada Dewa Penguasa Hutan ini, kalian akan mendapat hadiah…. Cepat!!!”

“BBBbbaa..Baik Kancil, segera aku laksanakan titahmu…. ” Buaya segera meninggalkan Kancil dan memanggil seluruh kawan-kawannya untuk berbaris di sungai yang sedang meluap itu. Tak berapa lama kemudian, seluruh buaya penghuni sungai itu telah berbaris rapi memenuhi sungai itu, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang kurus ada juga yang gemuk. Kancil tersenyum geli.

“Kancil, semua buaya telah siap…” Ujar buaya itu tergopoh-gopoh

Kancil berkacak pinggang.

“Dasar buaya bodoh, bisa juga kalian aku kerjain… hi..hi…”

“Bagus, Bagus!! Kau memang bisa aku andalkan, tetap di posisi kalian saat aku menghitung ya!!!, jangan ada yang berani macam-macam atau aku akan mencabut nyawa kalian dengan telunjuk saktiku” Hardik Kancil pada kawanan buaya yang telah berbaris rapi tersebut. Para buaya tersebut hanya terdiam dan takut, karena mengira Kancil memang diutus Dewa Penguasa Hutan Surga Satwa tersebut.

Kancil mulai menyeberangi sungai dengan menginjak-injak tubuh para buaya yang telah berbaris rapi di atas sungai tersebut. Bahkan sesekali Kancil menjitak kepala beberapa buaya itu. “Satu, dua, tiga, empat…!!” Kancil terus menghitung buaya yang berbaris rapi di atas sungai itu hingga sampai ke seberang.

“Wahai, dengarkanlah para buaya bodoh!!!. Aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian, sesungguhnya aku telah menipu kalian, lihatlah di seberang sungai itu, ada Harimau yang sedang mengejarku, Aku menipu kalian agar aku bisa menyeberangi sungai ini, Hua,..ha…. Terima kasih ya para buaya Bodoh… Hua..ha…” Kancil tertawa puas dan meninggalkan kawanan buaya yang merasa geram karena ditipu oleh Kancil. Di seberang sungai Harimau menggeram kencang, Harimau merasa kesal melihat buruannya bisa melarikan diri. Untuk kesekian kalinya Kancil telah berhasil selamat dari ancaman bahaya.

+++++++++++++

Kura-Kura Pemarah

Tapi sekarang kita harus segera pergi.Selamat tinggal dan semoga selamat!”Tampak si kura-kura amat sedih mendengarnya.Sambil menangis kura-kura minta diajak pergi bersama mereka. lalu Bangau menjawab,”hai kura-kura,kami sebenarnya tak ingin meninggalkan kamu,tapi kamu tak bisa terbang seperti kami.”
Si kura-kura akhirnya punya akal,”aku tak dapat terbang seperti kalian,tetapi aku masih dapat pergi bersama kalian.”
“bagaimana mungkin?”tanya bangau terheran-heran.“caranya pertama-tama carikan aku tongkat panjang yang kuat, lalu kalian berdua memegang masing-masing ujung tongkat itu dengan paruh kalian.aku akan berpegangan dengan mulutku dan bergantungan di tengah-tengah kayu itu.Kemudian kita semua dapat terbang menuju tempat dimana banyak air.”“wah wahhh akal yang luar biasa!”kata burung bangau.Lalu kedua bangau itu mencari tongkat yang kuat.Si kura-kura berpesan,”kawan,hati-hati ya,jangan menjatuhkanku.”

Burung bangaupun menggelengkan kepalanya sambil berkata,”ya tentu saja kami akan hati-hati.tapi kamu harus berjanji juga,jangan membuka mulutmu sementara kita terbang.Kalau tidak,kmu pasti jatuh dan lehermu bisa patah.”
Kura-kura berjanji,”aku tak sebodoh itu.aku tak akan berkata sepatah kata pun.
Burung bangau itu memegang kedua ujung tongkat itu dengan paruhnya,kemudian si kura-kura menggigit bagian tengah tongkat itu.
Merekapun mulai terbang.melintasi tanah,pegunungan,dan kebun yang baru.
Akhirnya mereka terbang di atas sebuah hutan yang banyak binatangnya..Segera berkrumun binatang-binatang menyaksikan pemandangan yang aneh di atas.
Anak-anak hewan yang masih kecil tertawa keras dan bertepuk tangan.”he..liat dua bangau itu membawa seekor kura-kura untuk terbang.ha..ha..ha..”

Si kura-kura marah dan heran mengapa hewan-hewan di bawah menertawainya.
Akhirnya ia tak dapat menahannya.Ia melupakan janjinya untuk tidak membuka mulutnya saat terbang.Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.Dan,Hup..!!pegangannya lepas dan si kura-kura itu pun jatuh ke tanah dengan keras.kura-kura bodoh dan malang itu akhirnya mati.



Kancil yang Sombong
kancil berkata-kata sendirian. "Buaya, Gajah, Harimau semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya".
Si kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan oleh seekor siput yang sedang duduk dibongkahan batu yang besar. Si siput berkata,"Hei kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira ?". Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia menemukan letak si siput.
"Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya ?". Siput yang kecil dan imut-imut. Eh bukan !. "Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran ayam". Ujar si kancil. Siput terkejut mendengar ucapan si kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel. Lalu siputpun berkata,"Hai kancil !, kamu memang cerdik dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat". Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan.

Setelah si kancil pergi, siput segera memanggil dan mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya harus berada dijalur lomba. "Jangan lupa, kalian bersembunyi dibalik bongkahan batu, dan salah satu harus segera muncul jika si kancil memanggil, dengan begitu kita selalu berada di depan si kancil," kata siput.

Hari yang dinanti tiba. Si kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang siput segera menyelam ke dalam air. Setelah beberapa langkah, kancil memanggil siput. Tiba-tiba siput muncul di depan kancil sambil berseru,"Hai Kancil ! Aku sudah sampai sini." Kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi. Ternyata siput juga sudah berada di depannya. Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul di depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil siput, tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.
Si kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis kancil berkata,"Kancil memang tiada duanya." Kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara siput yang sudah duduk di atas batu besar. "Oh kasihan sekali kau kancil. Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari ?". Ejek siput. "Tidak mungkin !", "Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang", seru si kancil.

BENDE SAKTI

Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah," kata harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya tidak tahan lagi. "Benar-benar keterlaluan si harimau !" kata Kancil menahan marah. "Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si harimau kapok.

Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si kancil tiba-tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si kancil. "Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas penting," kata kancil pada kelinci. "Tugas penting apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?", kata kelinci. "Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi."

Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya. "Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. "Itu dia si Kancil!" kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. "Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.

"Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting apa?". Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. "Aku harus menjaga bende wasiat itu." Bende wasiat apa sih itu?" Tanya harimau heran. "Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan kata-kata.

Harimau jadi penasaran. "Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu dari bende itu." "Jangan, jangan," kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, "Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?", kata si kancil.

Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi?. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung?nguuuung?..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau. "Tolong! Tolong!" teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah. "Grr, awas kau Kancil!" teriak Harimau menahan marah. "Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?". Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi."Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah," kata kancil. "Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?". "Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini," kata kelinci penuh harap."
Pesan Moral : Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita tidak boleh sombong dan memperlakukan makhluk hidup lain semena-mena.




Kancil dan Monyet

Pada suatu pagi, Sang Kancil pergi mencari makanan. Sang Kancil ternampak sebatang pokok jambu. Sang Kancil terliur hendak makan buah jambu. Di atas pokok jambu itu, tinggal seekor monyet. Sang Kancil lalu meminta pada Sang Monyet, "Wahai Sang Monyet, berikanlah aku sebiji jambu!"
Tetapi Sang Monyet enggan memberikan buah jambu kepada Sang Kancil. "Kalau engkau mahu makan, engkau panjatlah sendiri," Sang Monyet berkata dengan sombong. Sang Kancil mendapat suatu akal. Sang Kancil membaling monyet itu dengan sebatang kayu kecil.
Apalagi! Marahlah Sang Monyet. Sang Monyet memetik beberapa biji jambu. Sang Monyet segera membaling jambu itu ke arah Sang Kancil. Namun, Sang Kancil pandai mengelak. "Ha! Ha! Ha!" Sang Kancil ketawa. Sang Kancil sangat gembira.
"Engkau kena tipu," kata Sang Kancil kepada Sang Monyet. Sang Monyet terdiam apabila mendengar Sang Kancil berkata begitu."Sekarang aku dapat makan buah jambu," ujar Sang Kancil. Sang Kancil segera makan buah jambu itu. "Pandai sungguh Sang Kancil memperdayakan aku," kata Sang Monyet di dalam hatinya. Sang Monyet berasa malu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar